Selasa, 05 Maret 2013

Malina dalam Bus Tua


Malina belum menentukan ke mana ia akan pergi ketika ia menumpang bus tua. Dia hanya tahu bus itu akan keluar dari kota kecil tempat ia tinggal, dan itu pula tujuannya.
Ada beberapa kursi kosong. Malina bergerak ke dalam dan memilih duduk di pinggir, dekat jendela yang terbuka. Kursi di sampingnya belum terisi. Udara cukup dingin, digesernya kaca jendela sampai rapat. Tas warna hitam yang mengembung ia letakkan di antara kedua kaki.
Wajah cekung dan bibir kering tanpa pemerah menambah getir penampilannya. Apalagi ia sama sekali tidak tersenyum pada siapa atau apa pun. Sesekali ia semburkan napas keras-keras, amat disengaja. Seseorang di depannya kadang menoleh. Mungkin terganggu. Mungkin penasaran. Ia tidak hirau. Wajahnya ia tempelkan dengan ketat ke kaca jendela. Kalau ada orang di jalan yang memerhatikan, mukanya pasti mirip kaleng penyok.

Di luar Malina melihat sawah, sedang hijau-hijaunya. Burung-burung kecil hinggap dan terbang. Sebagian sawah yang lain, yang letaknya jauh ke dalam, mulai menguning. Ia bayangkan di sana pasti lebih banyak burung-burung kecil, dan petani pasti pula sangat sibuk menghalaunya agar menjauh. Sawah dan burung-burung kecil itu membuat ia rindu pada kakek dan nenek di kampung. Mereka sudah tua tapi tetap ingin pergi ke sawah. Di sanalah mereka benar-benar dapat bahagia. Memang begitu jiwa seorang petani, kata ibunya memberinya pengertian bila ia –ketika itu ia masih kecil– bertanya kenapa kakek dan nenek tidak kerasan tinggal bersama mereka di kota.
Apakah itu artinya kakek dan nenek bisa bermain lumpur seumur hidup mereka? Itu pertanyaan lain yang mendekam di kepala Malina, namun tak mampu ia sampaikan pada orang tuanya. Anak kecil tidak boleh terlampau ingin tahu semuanya, begitu pendapat orang dewasa.
Ia hanya merasa alangkah senang kakek dan neneknya itu. Bermain kotor dan tidak ada yang melarang (sesungguhnya ini bukan semata-mata masalah boleh bermain kotor atau tidak, tapi tentang kebebasan yang diidamkan semua anak kecil).

Bus berhenti. Tubuh Malina terlonjak ke depan. Ia menarik tasnya yang sedikit bergeser. Seseorang naik dan menempati kursi di sampingnya. Anak laki-laki sepuluh tahunan dengan seragam pramuka yang lengkap. Seragam yang dulu amat disukainya karena ia mengira sangat keren dengan rok warna coklat pekat. Berjam-jam ia akan berdiri di depan cermin, mematut-matut penampilannya, sampai ibunya ngomel-ngomel.
Anak lelaki di sampingnya menguap. Ia perhatikan wajah itu tampak berat. Wajah cemberut yang menahan beban. Mungkinkah ia habis dimarahi? Bisa pula ia sedang malas sekolah tapi dipaksa untuk tidak membolos oleh ibunya. Jangan-jangan ia tengah ketakutan karena lupa membuat PR dan akibat dari itu ia pasti mendapat hukuman berdiri di halaman sekolah sampai jam pelajaran berakhir.

Buru-buru Malina mengatakan pada dirinya agar berhenti memikirkan masalah di luar kehidupannya. Hidupnya sendiri sudah terlampau rumit. Sekarang ia sedang menjauhi kerumitan itu. Ia ingin memisahkan diri. Namun dalam bahasa orang-orang di sekelilingnya, ia sedang ingin lari. Mau dibantah percuma. Maka ia benarkan pendapat itu dengan keputusan yang membuatnya berada dalam bus tua –tempat ia bertemu segala macam kejorokan yang dulu mungkin saja tidak terbayangkan bisa sedekat ini.
Dalam bus tua, Malina meremas jemarinya seperti remaja yang baru saja melompat dari jendela kamar dan menemukan ruang kosong yang terlalu lebar. Ia mengalami euphoria yang justru membuatnya kebingungan akan melangkah ke mana.

Tahun-tahun terakhir, rasanya, ia hampir tidak punya momentum untuk berkata-kata, tertawa, berpikir, mengkhayal, membuat puisi, membaca, menulis surat, menelepon teman semasa kuliah, mengadakan perjalanan, menonton film, kopi darat dengan kenalan baru, menghadiri peluncuran buku, atau menghabiskan waktu yang sifatnya lebih personal dan tentu menyenangkan untuk dirinya.

Kini bus tua membawa Malina makin jauh dari rumahnya. Rumah bercat putih bersih yang menunjukkan betapa angkuh pemiliknya. Apalagi dengan model pagar yang terlampau tinggi dan gembok besar yang selalu terpasang. Di rumah itu ia meninggalkan anak perempuan tiga tahun yang belum pernah berpisah sekali saja dengannya.
Menangiskah ia? bisik Malina kalut. Memang ia sudah menyiapkan semua kebutuhan anak itu. Termasuk catatan mengenai berapa botol susu yang harus diberikan atau berapa kali anak itu makan nasi atau buah dalam sehari. Tidak lupa ia juga meninggalkan nomor telepon dokter anak langganannya. Untuk berjaga-jaga kalau anaknya terserang pilek di musim yang tidak tentu ini.
Ia tahu suaminya belum pernah mengurus anak seorang diri, tapi ia percaya semua akan baik-baik saja. Bukankah dulu ia tidak tahu apa-apa tentang bayi sampai kemudian ia sudah menjalani peran sebagai ibu selama ini. Kalau ia bisa melewatinya, tak ada alasan untuk tak percaya pada suaminya. Lagi pula suaminya bisa minta bantuan pembantu jika diperlukan, walau selama ini mereka jarang menyerahkan hal-hal yang mereka anggap bisa dikerjakan sendiri, apalagi urusan anak, pada orang lain.

Bus kembali berhenti. Malina menegakkan wajahnya. Ternyata anak di sampingnya yang turun. Malina tidak mendengar anak itu minta bus berhenti. Malina menggigit bibir. Ia melamun jauh sekali rupanya. Ia menoleh lagi keluar jendela. Bukan lagi sawah, melainkan semak sepanjang jalan. Semak itu berbunga ungu. Baru sekali ini ia melihat semak berbunga ungu dalam jumlah yang banyak, memenuhi pinggir jalan, hingga menyerupai karpet yang sangat panjang.
Buru-buru Malina menyadari bahwa anak yang duduk di sampingnya tidak turun di depan sebuah sekolah atau suatu perkampungan. Anak itu benar-benar tidak ingin ke sekolah, dan ia akan bersembunyi di daerah yang penuh semak begini, pikir Malina dengan kening berkerut.
Malina memilih melupakan soal anak itu. Ia bersikeras pada dirinya, kalau itu bukan urusan penting yang mesti ia tanggapi dengan serius.
Bus berjalan lagi, kali ini cukup kencang dan tergesa. Malina segera tahu ada bus lain di belakang bus yang ia tumpangi. Kejar-kejaran pun berlangsung seru, dan itu membuat sejumlah penumpang menahan napas atau menjerit kecil.
Tidak ada yang harus ia sesali dari kepergian yang telah ia pilih hingga ia ditakdirkan berada di dalam bus tua yang bahkan besi-besinya telah rongsok dan sopir yang ugal-ugalan. Benar ia sangat sebal pada sopir itu. Namun saat tahu penampilan sopir itu ternyata amat miris, Malina tidak tega melanjutkan rasa sebalnya. Ah, bus tua dan sopir yang bahkan rambutnya sekusam debu.
Debu?

”Aku menyukai debu,” kata Malina pada suatu hari (ketika itu, membicarakan debu, bagi Malina, serasa menyusun krisan putih di jambangan).
”Kenapa kau menyukainya?” tanya pacarnya.
”Aku suka baunya yang harum.”
Pacar Malina geleng-geleng kepala.
”Apa kau pernah mencium debu?” Malina memandang pacarnya.
”Aku pasti bersin-bersin jika melakukan itu. Hidungku sangat sensitive.”
Malina tenggelam dengan perasaannya, ”Ternyata kau tak suka debu.”
”Tidak ada orang yang suka debu selain kamu.” Pacar Malina tertawa seakan ia sedang melontarkan kalimat paling jenaka.
Berhari-hari Malina ingat pernyataan pacarnya tentang hidungnya yang suka bersin bila bersentuhan dengan debu. Lelaki yang tidak asyik, simpul Malina sangat kecewa.
Dan dengan lelaki yang tidak asyik itulah ia justru menikah lima tahun lalu. Lelaki yang mengajarinya menjadi tukang bersih-bersih; dari gorden, lantai, dinding, keramik, koleksi botol parfum, sofa, dan masih banyak lainnya. Bertahun-tahun. Padahal ia senang membiarkan kotor itu tetap menempel. Ia bisa membauinya, meresapi. Ia bosan, dari kecil mendengar teriakan orang-orang saat ia lupa memakai sandal atau lupa mencuci tangan sebelum mengambil sekeping biskuit. Kenapa sih orang dewasa, saat itu, tak sedikit pun memberinya pilihan untuk menyukai tanah atau debu di jejarinya.
Kotor adalah kebebasan. Bersih adalah keterikatan. Ia memilih kotor. Apa yang kaucari Malina? tanya suaminya tadi malam. Selama ini kau berbohong dan pura-pura bahagia menjadi bagian dari kami?
Kau pasti tahu bukan itu yang kumaksudkan.
Itu kenyataan yang kami rasakan.
Kau seharusnya mengerti perasaanku, keinginanku. Aku tak bermaksud merusak apa-apa. Aku cuma butuh sendiri, melakukan sesuatu yang kusukai sekali waktu. Semacam kebebasan. Tanpa kamu. Tanpa anak kita. Tanpa namamu di belakang namaku. Tanpa rutinitas ibu rumah tangga yang menjemukan. Tanpa catatan belanja yang mesti kulaporkan tiap minggu padamu. Tanpa tatapan pembantu yang telah kau sogok untuk mengawasiku. Tanpa orang tua yang masih saja merasa berhak mengatur kehidupan kita seakan kita belum cukup mampu untuk membuat keputusan sendiri.
Kau menyakiti kami. Kau benar-benar menyakiti kami.
Itu tidak benar.
Kau bahkan tak tahu dadaku begitu remuk, Malina
Ternyata kau tidak mengerti sedikit pun. Bukan. Bukan itu yang kuinginkan. Aku butuh sendirian dan itu berbeda dengan keinginan menyakiti orang lain. Berbeda sekali. Sayang, kau tak paham.

Ini memang tidak sederhana, kemam Malina, sekali lagi, bukan masalah bersih atau kotor semata. Namun ini tentang dirinya yang ingin berkata-kata, tertawa, berpikir, mengkhayal, membuat puisi, membaca, menulis surat, menelepon teman semasa kuliah, mengadakan perjalanan, menonton film, kopi darat dengan kenalan baru, menghadiri peluncuran buku, atau menghabiskan waktu yang sifatnya lebih personal dan tentu menyenangkan untuk dirinya.
Aku tak memiliki keyakinan kau bisa memberiku kesempatan untuk itu jika kau sama sekali tidak paham meski aku sudah berkali-kali mengatakannya, Malina memejamkan matanya.
Lalu di sinilah aku, masih dalam bus tua dengan bunyi mesin yang meraung-raung. Aku punya perasaan kalau bus yang kutumpangi akan membawaku ke suatu tempat yang sangat jauh, tempat di mana aku akan melepaskan segala yang melekat di kehidupanku. Ini mungkin sebuah dosa, pengingkaran paling jahat. Hanya saja, sejak saat ini, aku akan berhenti salah tingkah seolah-olah aku baru saja mencuri sesuatu dari rumah orang lain. Aku kini memiliki tubuhku sendiri.
Malina menggosok matanya, dan punggung tangannya sedikit basah.

Bus tua menyusuri jalan yang terus menanjak. Jalan yang makin lama makin sempit. Semak-semak juga makin sesak di kanan kiri jalan. Rupanya bus ini menuju ke puncak bukit. Malina melihat ke sekelilingnya. Ia tercengang. Dia penumpang satu-satunya yang belum turun. Tidak sedikit pun ia ingat, di titik mana saja bus ini berhenti dan menurunkan penumpangnya.
Malina berdiri sambil berpegangan pada sandaran kursi. Hati-hati ia bergerak ke depan, ke arah sopir yang berambut sekusam debu. Tepat di belakang sopir itu, ia bertanya dengan suara yang sengaja dikeraskan: Di mana tempat perhentian terakhir bus ini.
Bus mendadak berhenti. Malina hampir saja tersungkur ke depan dan ia bersungut-sungut. Sopir bus membalikkan badannya, menatap Malina dingin, sembari menjawab: Di neraka.
Seketika tubuh Malina limbung. Mata sopir bus itu sama persis dengan mata suaminya.

Jogjakarta, 29 Maret 2010
*) Yetti A.KA, bergiat di Komunitas Daun, Padang

0 komentar:

Posting Komentar

 

Intan Libra Venus Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template